Hi There, I am

Pages

Jika aku Menjadi Mereka

Sudahkah kita bersyukur? ?

Dunia dengan segala keindahannya. Gunung-gunung berdiri dengan gagahnya. Sungai mengalirkan air yang jernih. Bunga-bunga bermekaran di pagi hari, seakan semuanya menyapa kita dengan sapaan yang tenteram dan hangat.

Mungkinkah kita memikirkan semua itu ? Sudahkan kita bersyukur saat ini ? Pastinya jawaban sudah ada di tangan anda masing-masing. Setiap hari kita menikmati semua itu, banyak diantara kita yang kurang bahkan tidak bersyukur akan nikmat yang segitu banyaknya telah diberikan kepada kita semua.

Aku adalah seorang yang tinggal di sekitar gunung Saptoargo. Sebuah gunung yang mungkin sangat asing ditelinga anda. Saptoargo adalah sebuah gunung yang berada di antara kabupaten Jepara, Pati dan Kudus. Gunung yang sangat indah dan sejuk yang masih terjaga keasrian dan keindahan alamnya.


Digubuk sederhanaku aku tinggal, aku sangat bersyukur karena banyak diluar sana yang menyandang Tunawisma alias tidak memiliki tempat berteduh. Ditengah kesederhanaanku aku selalu semangat menjalani kehidupan di dunia ini. Hidup cuma sekali, jangan dibuat susah. Kata-kata itu selalu aku ingat dan aku jadikan pedoman dalam mengarungi hujan badai di dunia ini.

Aku terlahir dengan segala kesempurnaan yang diberikan Tuhan. Semuanya aku miliki, mata untuk melihat, otak untuk berfikir, telinga untuk mendengar, kaki untuk melangkah dan hidung untuk bernafas. Masih banyak nikmat yang diberikan kepadaku. Bersyukur adalah sesuatu yang sangat lazim kita lakukan.

Ketika aku terjun dimasyarakat, banyak yang berfikir kita itu miskin, kita itu tidak mampu dan kita itu tidak seperti orang-orang kaya. Aku berfikir sejenak dan menepis semua anggapan itu. Kita adalalah orang kaya, kita pasti mampu dan derajat kita sama dengan orang-orang kaya.

Marilah kita sejenak berfikir, berapa harga jantung yang kita miliki? Maukah kamu menjual jantung kamu seharga 1 M ? 2 M ? 100 M ? Tentu tidak. Itu baru jantung belum organ penting lainnya yang bisa dihargai ratusan juta bahkan milyaran. Sudahkah kita berfikir sampai sejauh ini? Sekali lagi, jawaban pasti sudah anda miliki dan silahkan renungkan semuanya.

Teman-temanku juga terlahir sempurna, kita bermain bersama hampir setiap hari. Aku sangat menyayangi mereka, karena mereka selalu mengisi hari-hariku dengan bahagia. Tapi kebahagianku lenyap saat aku melihat ada seorang laki-laki yang kebetulan tidak jauh dari rumahku. Dia 4 tahun lebih muda dari aku.

Sebut saja Indra. Dia mungkin beruntung dapat menikmati dunia ini, dapat menghirup nafas yang segar, dapat melihat indahnya dunia. Tapi tubuhnya sangat kecil dan dia tidak bisa bicara. Jangankan berjalan, makan sendiripun dia tidak bisa. Setiap kali aku bermain didekat rumahnya, dia cuma memperhatikan kita. Entah mengerti atau tidak tapi aku yakin, dia ingin seperti kita. Tertawa, bermain dan bersendau-gurau.

Dia melewati hari-harinya diatas kursi kecil yang memang sengaja dibuat untuk dia. Tingginya kira-kira 80 cm. Sungguh sangat jauh dari tinggi normal bila dilihat dari segi umurnya. Tubuhnya kurus kering dan memiliki warna kulit hitam. Rambutnya pendek rapi karena memang orang tuanya sangat menyayanginya. Setiap hari keduanya merawat dengan cinta dan kasih sayang.

Orang tua Indra adalah seorang pedagang kecil. Hanya memiliki kios kecil di pinggir jalan. Dari situlah dia mampu menghidupi indra dari kecil. Orang tuanya tidak pernah mengeluh dan menyesal memiliki anak seperti Indra. Justru mereka merasa senang, memiliki anak seperti Indra sehingga bisa selalu mengingat sang pencipta.

Mereka percaya jika anda ingin melihat pelangi maka harus turun hujan terlebih dahulu. Jika anda ingin kebahagian maka anda harus melewati kesengsaraan terlebih dahulu. Pepatah itu selalu mereka pegang sehingga membuat mereka kuat dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.

Merawat dan merawat, merupakan pekerjaan rutin orang tua indra. Mulai dari memandikan, memakaikan baju dan menyuapi makan. Itu semua rutin dilakukan setiap hari. Tidak ada kata lelah yang menyelimuti mereka, hanya ada satu yaitu cinta dan kasih sayang yang abadi terhadap buah cinta meraka, Indra.

Mungkin tidak ada satupun orang yang memahami bahasa isyarat Indra kecuali kedua orang tuanya. Aku sendiri tidak mengerti, setiap Indra mengeluarkan bahasa isyaratnya, aku hanya geleng-geleng kepala dan merenung. Bagaimana jika aku berada di posisi Indra? Bagaimana jika aku memiliki keluarga seperti Indra? Apakah aku mau merawatnya dengan tulus? Itu masih menjadi kekhawatiranku selama ini.

Aku sangat salut dengan Indra. Dia masih bisa tersenyum dengan segala keterbatasan dan kekurangannya. Aku sangat suka jika melihat senyumnya. Mungkin dia hanya bisa tersenyum beberapa kali saja dalam sehari. Tapi senyumannya selalu menginspirasi aku untuk berbuat lebih baik dan menghargai sesama.

Aku selalu berfikir ketika melihat Indra. Tuhan, terima kasih karena engkau telah memberikan segalanya kepada saya. Terima kasih engkau telah memberikan keluargaku kesehatan dan terima kasih engkau telah menjauhkan mara bahaya dari keluarga saya. Aku mungkin hanya bisa bersyukur atas segala yang telah engkau berikan kepada saya Tuhan.

Suatu hari Indra duduk didepan rumah sendiri, ibu Indra lagi memasak didapur. Aku melihat indra duduk dikursi kecil dan tubuhnya dililit selendang. Oh, ternyata duduk saja Indra tidak bisa, dia harus dililit selendang ke kursi agar tidak jatuh. Sungguh cobaan yang sangat besar kepada keluarga Indra. Belum lagi kalau Indra buang kotoran, repotnya kayak apa orang tua Indra.

Menurut orang tua Indra, mereka selalu mengikat tubuh Indra di kursi agar Indra tidak jatuh ke tanah. Pernah suatu hari, ibu indra lupa mengikatnya dan baru ditinggal sebentar, ketika ibu Indra selesai mencuci piring didapati anakanya tercinta sudah berada ditanah. Seluruh tubuhnya kotor karena saat itu baru turun hujan.

Setiap ibu Indra berjualan, Indra selalu diajak. Ibunya tidak mau mengambil resiko dengan meninggalkan Indra dirumah. Ditoko kecil milik ibunya, Indra bisa menonton dan tidur di depan TV. Ibunya selalu mengawasi Indra sambil melayani para pembeli. Kebetulan toko ibu Indra tidak jauh dari rumah mereka sehingga mempermudah mereka dalam berjualan dan mencukupi kebutuhan mereka.

Toko ibu Indra tutup sore hari dan kembali buka dimalam hari. Sebelum maghrib tiba, Indra sudah dimandikan oleh ibunya, setelah mandi Indra hanya bisa berbaring dikamar sambil menunggu malam tiba. Di malam hari, Indra sering diajak ibunya ke toko lagi. Akan tetapi jika ada ayahnya, indra dirumah bersama ayahnya.

Ayah indra kerja serabutan, dia juga sangat sayang dengan Indra. Setiap hari dia berusaha meluangkan waktunya buat anaknya tercinta. Walaupun sedikit tapi semua itu bisa bermakna bagi Indra. Indra juga sangat senang ketika berada disamping ayahnya. Seakan dia sudah memiliki semuanya di dunia ini.

Mungkin Indra bukan satu-satunya orang yang memiliki kekurangan di dunia ini, tapi Indralah orang yang memiliki kekurangan yang ada di kehidupan masyarakatku. Karena kebetulan hampir semuanya memiliki kesempurnaan jasmani dan rokhani kecuali Indra.

Kehidupanku semakin membaik saat aku mengenal Indra. aku sekarang jadi mengerti akan nikmat yang telah diberikan tuhan kepadaku. Dulu aku sering menyianyiakan nikmat yang diberikan tuhan kepadaku. Sekarang, aku mulai menghargai nikmat yang diberikan.

Jika kita ingin menghitung nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita semua, niscaya tidak akan mampu. Itu semua karena banyaknya nikmat yang telah diberikan kepada kita semua. Sekarang kita bayangkan, jika kita diharuskan membayar Rp 100,00 setiap menghirup napas satu kali. Berapa yang harus kita bayar selama satu hari? Coba kalikan satu tahun dan sudah berapakah umurmu?

Itu baru segelintir nikmat yang telah diberikan tuhan kepada kita semua. Maka memang sangat wajar jika kita tidak akan bisa menghitung semua nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita semua. Sudahkan kita menghargai dan memanfaatkan segala nikmat itu semua? Tentu belum. Aku sendiri mengakui jika belum bisa menghargai dan memanfaatkan itu semua.

Kala itu Ramadhan datang, aku berpuasa selayaknya muslim yang lain. Sungguh senang rasanya bisa berpuasa di bulan suci Ramadhan. Aku tidak tahu apakah Indra bisa berpuasa atau tidak? Semoga dia bisa dan dapat melaksanakan tugas muslim meski dengan keterbatasannya.

Satu momen lagi yang tidak akan terlupakan adalah saat Indra tertawa ketika melihat seseorang. Aku yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum. Baru kali ini aku melihat Indra bisa tertawa seperti orang normal lainnya.

Hari demi hari berganti, tidak terasa Lebaran sebentar lagi tiba. Aku mulai merencanakan baju yang ingin aku beli. Tapi aku teringat kembali akan Indra. Jangankan untuk beli baju, memakai saja dia tidak bisa. Baju yang dikenakan setiap hari adalah baju-baju yang sederhana yang terkesan lusut dan sangat jauh dari kata rapi.

Tuhan!!! Salahkah aku jika aku membeli baju yang bagus di hari raya sedangkan saudara muslimku hanya bisa berbaring dan memakai baju yang sangat sederhana? Salahkah aku jika aku memakai celana baru sedangkan saudara muslim aku hanya memakai sarung kecil yang sederhana ?

Tanda tanya besar terlintas di benakku kala itu. Lebaran tiba, suka cita menyelimuti hari-hariku waktu itu. Aku saat itu tidak lebaran di Jepara. Aku memilih Lebaran bersama orang tuaku di kampung halamanku di daerah Purwodadi.

Setelah meminta maaf dengan kedua orang tuaku, aku bergegas ke rumah nenekku yang dekat dengan rumahku. Aku meminta maaf padanya karena sewaktu kecil aku sering merepotkan nenekku. Lalu aku mendatangi rumah-rumah saudaraku dan bersalam-salaman.

Setelah selesai semua aku bersalam-salam dengan tetanggaku. Semuanya sangat senang, raut muka bahagia selalu terpancar. Lalu aku kembali teringat Indra di Jepara. Mungkin sekarang dia tidak bisa merasakan Lebaran. Mungkin sekarang dia hanya bisa terbaring di kasur.

Suka cita yang ada diwajahku seketika luntur ketika aku mengingat itu semua. Bagaimana jika aku tidak bisa merayakan Lebaran yang penuh suka cita seperti Indra? Bagaimana jika aku tidak bisa meminta maaf pada kedua orang tuaku seperti Indra? Bagiamana jika aku tidak bisa datang ke rumah-rumah saudara, nenek dan tetanggaku seperti yang terjadi pada Indra.

Indra mungkin hanya bisa berbaring di kasur. Tapi aku yakin dia mengerti arti Lebaran yang sesungguhnya. Aku yakin dia bisa meminta maaf pada kedua orang tuanya dengan bahasanya sendiri. Bahasa yang dia ciptakan sendiri.

Aku sejenak memikirkan kehidupan Indra lagi. Dia tidak pernah mengeluh akan segala yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Bagaimana mau mengeluh? Berfikir saja aku rasa sulit. Tapi aku yakin dia memiliki fikiran yang hampir sama dengan kita semua. Akan tetapi kendalanya adalah kesulitan dalam mengungkapkan semua itu.

Lebaran telah berlalu, aku kembali ke Jepara untuk melanjutkan sekolahku. Ketika aku sudah sampai di Jepara, tidak sengaja aku melihat Indra sedang duduk di depan toko ibunya. Aku melihat tidak ada perubahan sama sekali dengan Indra. Tetap sama dengan Indra sebelum lebaran. Indra yang hanya bisa duduk dan diam.

Ketika hari pertama masuk kembali di sekolah tercintaku. Aku masih teringat Indra. Dia tidak bisa mengenyam pendidikan seperti orang normal lainnya. Aku lebih bersemangat dalam belajar karena beranggapan, jika kau menjadi Indra pasti tidak bisa merasakan pendidikan. Oleh karena itu aku harus bisa meraih prestasi yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Mungkin semua cerita diatas bisa jadi referensi kita semua dalam meniti kehidupan di dunia ini. Kehidupan ini tidak mudah, banyak masalah dan cobaan yang pasti akan kita terima akan tetapi semuanya pasti akan ada hikmahnya. Dengan semua masalah dan cobaaan tersebut bisa menjadi kita semakin berfikir lebih dewasa dari sebelumnya.
Indra, seorang anak yang lahir dengan segala kekurangannya. Tapi dia tetap bisa tersenyum ditengah cobaan dan kesengsaraan yang menghimpit dia. Dia masih tetap bisa tertawa di sela-sela harinya. Sungguh luar biasa.

Kita bisa terinspirasi dari kedua orang tua Indra yang dengan ikhlas dan senang dalam merawat Indra sejak kecil. Kata-kata mengeluh tidak pernah keluar dari ucapan meraka yang menandakan ketulusan hatinya. Jika kita jadi orang tua Indra? Mungkinkah kita bisa bersabar seperti mereka ? Mungkinkah kita mau merawat Indra dengan cinta dan kasih sayang ?

Merenung dan merenung adalah solusi terbaik dalam menentukan langkah kita kedepan. Jangan cuma tergiur dengan gemerlap kehidupan dunia. Jangan cuma mengeluh akan segala yang telah diberikan kepada kita semua. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, justru mengeluh membuat masalah itu semakin rumit dan besar.

Kita contoh saja kehidupan Indra. Ingat kata pepatah!!! Janganlah kamu selalu melihat keatas, sesekali coba lihat kebawah agar kamu mengerti arti kehidupan yang sebenarnya.

Kata Puas adalah relativ. Seseorang yang hidup miskin bisa saja puas dengan kehidupan mereka akan tetapi seseorang yang hidup menjadi orang kaya, dengan segala kekayaan yang dia miliki belum tentu dia puas dengan apa yang dia miliki. Itu memang sifat lazim dari manusia.

Jika kita belum puas dengan kehidupan kita saat ini. Lantas kapan kita puas ? Apakah menunggu saat kita sudah terbaring diatas keranda dan diiringi isak tangis keluarga? Maukah kita seperti itu ?

Sejenak kita berfikir, kita jangan cuma menuntut apa yang telah diberikan kepada kita semua. Tapi sebaliknya, apa yang telah kita berikan ? Apa yang telah kita sedekahkan ? Hanya hati nurani kita saja yang bisa menjawab semua itu.

Mungkin cerita diatas hanya gurauan belaka menurut anda semua. Sebuah cerita yang tidak memiliki makna. Cerita yang hanya membual dan hanya sebuah cerita yang diada-ada. Mungkin cerita diatas sangat tidak perlu kita baca karena hanya ditulis oleh seorang yang tidak mengerti arti dan tata cara penulis yang benar akan tetapi jika kita mau merenungkan dan memikirkan sejenak, bukan tidak mungkin cerita diatas bisa menjadi setitik cahaya pencerah di hati kita masing-masing.

Dengan setitik pencerah tersebut semoga bisa menjadikan hati kita lebih sensitif terhadap kehidupan sosial disekitar kita. Masih banyak diluar sana yang menderita dibandingkan kita. Masih banyak yang tidak memiliki rumah seperti kita. Jangankan memiliki rumah, banyak juga yang tidak bisa melihat indahnya dunia, mungkin Indra sedikit beruntung karena dia bisa melihat indahnya dunia ini tapi bayangkan mereka penyandang Tunanetra. Kegelapan yang hanya bisa dia lihat setiap harinya. Jangankan matahari, setitik cahayapun dia tidak bisa melihat.


Pantaskah kita mengeluh ? Pantaskah kita menyianyiakan nikmat yang telah diberikan kepada kita semua ? Salah besar jika kita menjawab “ YA”. Marilah mulai dari sekarang kita mensyukuri nikmat yang telah diberikan, menghargai nikmat yang telah diberikan dan memanfaatkan semuanya untuk kebaikan sehingga bisa mengarungi kehidupan dunia dengan aman dan tenteram.