Sudahkah
kita bersyukur? ?
Dunia
dengan segala keindahannya. Gunung-gunung berdiri dengan gagahnya.
Sungai mengalirkan air yang jernih. Bunga-bunga bermekaran di pagi
hari, seakan semuanya menyapa kita dengan sapaan yang tenteram dan
hangat.
Mungkinkah
kita memikirkan semua itu ? Sudahkan kita bersyukur saat ini ?
Pastinya jawaban sudah ada di tangan anda masing-masing. Setiap hari
kita menikmati semua itu, banyak diantara kita yang kurang bahkan
tidak bersyukur akan nikmat yang segitu banyaknya telah diberikan
kepada kita semua.
Aku
adalah seorang yang tinggal di sekitar gunung Saptoargo. Sebuah
gunung yang mungkin sangat asing ditelinga anda. Saptoargo adalah
sebuah gunung yang berada di antara kabupaten Jepara, Pati dan Kudus.
Gunung yang sangat indah dan sejuk yang masih terjaga keasrian dan
keindahan alamnya.
Digubuk
sederhanaku aku tinggal, aku sangat bersyukur karena banyak diluar
sana yang menyandang Tunawisma alias tidak memiliki tempat berteduh.
Ditengah kesederhanaanku aku selalu semangat menjalani kehidupan di
dunia ini. Hidup cuma sekali, jangan dibuat susah. Kata-kata itu
selalu aku ingat dan aku jadikan pedoman dalam mengarungi hujan badai
di dunia ini.
Aku
terlahir dengan segala kesempurnaan yang diberikan Tuhan. Semuanya
aku miliki, mata untuk melihat, otak untuk berfikir, telinga untuk
mendengar, kaki untuk melangkah dan hidung untuk bernafas. Masih
banyak nikmat yang diberikan kepadaku. Bersyukur adalah sesuatu yang
sangat lazim kita lakukan.
Ketika
aku terjun dimasyarakat, banyak yang berfikir kita itu miskin, kita
itu tidak mampu dan kita itu tidak seperti orang-orang kaya. Aku
berfikir sejenak dan menepis semua anggapan itu. Kita adalalah orang
kaya, kita pasti mampu dan derajat kita sama dengan orang-orang kaya.
Marilah
kita sejenak berfikir, berapa harga jantung yang kita miliki? Maukah
kamu menjual jantung kamu seharga 1 M ? 2 M ? 100 M ? Tentu tidak.
Itu baru jantung belum organ penting lainnya yang bisa dihargai
ratusan juta bahkan milyaran. Sudahkah kita berfikir sampai sejauh
ini? Sekali lagi, jawaban pasti sudah anda miliki dan silahkan
renungkan semuanya.
Teman-temanku
juga terlahir sempurna, kita bermain bersama hampir setiap hari. Aku
sangat menyayangi mereka, karena mereka selalu mengisi hari-hariku
dengan bahagia. Tapi kebahagianku lenyap saat aku melihat ada seorang
laki-laki yang kebetulan tidak jauh dari rumahku. Dia 4 tahun lebih
muda dari aku.
Sebut
saja Indra. Dia mungkin beruntung dapat menikmati dunia ini, dapat
menghirup nafas yang segar, dapat melihat indahnya dunia. Tapi
tubuhnya sangat kecil dan dia tidak bisa bicara. Jangankan berjalan,
makan sendiripun dia tidak bisa. Setiap kali aku bermain didekat
rumahnya, dia cuma memperhatikan kita. Entah mengerti atau tidak tapi
aku yakin, dia ingin seperti kita. Tertawa, bermain dan
bersendau-gurau.
Dia
melewati hari-harinya diatas kursi kecil yang memang sengaja dibuat
untuk dia. Tingginya kira-kira 80 cm. Sungguh sangat jauh dari tinggi
normal bila dilihat dari segi umurnya. Tubuhnya kurus kering dan
memiliki warna kulit hitam. Rambutnya pendek rapi karena memang orang
tuanya sangat menyayanginya. Setiap hari keduanya merawat dengan
cinta dan kasih sayang.
Orang tua
Indra adalah seorang pedagang kecil. Hanya memiliki kios kecil di
pinggir jalan. Dari situlah dia mampu menghidupi indra dari kecil.
Orang tuanya tidak pernah mengeluh dan menyesal memiliki anak seperti
Indra. Justru mereka merasa senang, memiliki anak seperti Indra
sehingga bisa selalu mengingat sang pencipta.
Mereka
percaya jika anda ingin melihat pelangi maka harus turun hujan
terlebih dahulu. Jika anda ingin kebahagian maka anda harus melewati
kesengsaraan terlebih dahulu. Pepatah itu selalu mereka pegang
sehingga membuat mereka kuat dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.
Merawat
dan merawat, merupakan pekerjaan rutin orang tua indra. Mulai dari
memandikan, memakaikan baju dan menyuapi makan. Itu semua rutin
dilakukan setiap hari. Tidak ada kata lelah yang menyelimuti mereka,
hanya ada satu yaitu cinta dan kasih sayang yang abadi terhadap buah
cinta meraka, Indra.
Mungkin
tidak ada satupun orang yang memahami bahasa isyarat Indra kecuali
kedua orang tuanya. Aku sendiri tidak mengerti, setiap Indra
mengeluarkan bahasa isyaratnya, aku hanya geleng-geleng kepala dan
merenung. Bagaimana jika aku berada di posisi Indra? Bagaimana jika
aku memiliki keluarga seperti Indra? Apakah aku mau merawatnya dengan
tulus? Itu masih menjadi kekhawatiranku selama ini.
Aku
sangat salut dengan Indra. Dia masih bisa tersenyum dengan segala
keterbatasan dan kekurangannya. Aku sangat suka jika melihat
senyumnya. Mungkin dia hanya bisa tersenyum beberapa kali saja dalam
sehari. Tapi senyumannya selalu menginspirasi aku untuk berbuat lebih
baik dan menghargai sesama.
Aku
selalu berfikir ketika melihat Indra. Tuhan, terima kasih karena
engkau telah memberikan segalanya kepada saya. Terima kasih engkau
telah memberikan keluargaku kesehatan dan terima kasih engkau telah
menjauhkan mara bahaya dari keluarga saya. Aku mungkin hanya bisa
bersyukur atas segala yang telah engkau berikan kepada saya Tuhan.
Suatu
hari Indra duduk didepan rumah sendiri, ibu Indra lagi memasak
didapur. Aku melihat indra duduk dikursi kecil dan tubuhnya dililit
selendang. Oh, ternyata duduk saja Indra tidak bisa, dia harus
dililit selendang ke kursi agar tidak jatuh. Sungguh cobaan yang
sangat besar kepada keluarga Indra. Belum lagi kalau Indra buang
kotoran, repotnya kayak apa orang tua Indra.
Menurut
orang tua Indra, mereka selalu mengikat tubuh Indra di kursi agar
Indra tidak jatuh ke tanah. Pernah suatu hari, ibu indra lupa
mengikatnya dan baru ditinggal sebentar, ketika ibu Indra selesai
mencuci piring didapati anakanya tercinta sudah berada ditanah.
Seluruh tubuhnya kotor karena saat itu baru turun hujan.
Setiap
ibu Indra berjualan, Indra selalu diajak. Ibunya tidak mau mengambil
resiko dengan meninggalkan Indra dirumah. Ditoko kecil milik ibunya,
Indra bisa menonton dan tidur di depan TV. Ibunya selalu mengawasi
Indra sambil melayani para pembeli. Kebetulan toko ibu Indra tidak
jauh dari rumah mereka sehingga mempermudah mereka dalam berjualan
dan mencukupi kebutuhan mereka.
Toko ibu
Indra tutup sore hari dan kembali buka dimalam hari. Sebelum maghrib
tiba, Indra sudah dimandikan oleh ibunya, setelah mandi Indra hanya
bisa berbaring dikamar sambil menunggu malam tiba. Di malam hari,
Indra sering diajak ibunya ke toko lagi. Akan tetapi jika ada
ayahnya, indra dirumah bersama ayahnya.
Ayah
indra kerja serabutan, dia juga sangat sayang dengan Indra. Setiap
hari dia berusaha meluangkan waktunya buat anaknya tercinta. Walaupun
sedikit tapi semua itu bisa bermakna bagi Indra. Indra juga sangat
senang ketika berada disamping ayahnya. Seakan dia sudah memiliki
semuanya di dunia ini.
Mungkin
Indra bukan satu-satunya orang yang memiliki kekurangan di dunia ini,
tapi Indralah orang yang memiliki kekurangan yang ada di kehidupan
masyarakatku. Karena kebetulan hampir semuanya memiliki kesempurnaan
jasmani dan rokhani kecuali Indra.
Kehidupanku
semakin membaik saat aku mengenal Indra. aku sekarang jadi mengerti
akan nikmat yang telah diberikan tuhan kepadaku. Dulu aku sering
menyianyiakan nikmat yang diberikan tuhan kepadaku. Sekarang, aku
mulai menghargai nikmat yang diberikan.
Jika kita
ingin menghitung nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita semua,
niscaya tidak akan mampu. Itu semua karena banyaknya nikmat yang
telah diberikan kepada kita semua. Sekarang kita bayangkan, jika kita
diharuskan membayar Rp 100,00 setiap menghirup napas satu kali.
Berapa yang harus kita bayar selama satu hari? Coba kalikan satu
tahun dan sudah berapakah umurmu?
Itu baru
segelintir nikmat yang telah diberikan tuhan kepada kita semua. Maka
memang sangat wajar jika kita tidak akan bisa menghitung semua nikmat
yang telah diberikan Tuhan kepada kita semua. Sudahkan kita
menghargai dan memanfaatkan segala nikmat itu semua? Tentu belum. Aku
sendiri mengakui jika belum bisa menghargai dan memanfaatkan itu
semua.
Kala itu
Ramadhan datang, aku berpuasa selayaknya muslim yang lain. Sungguh
senang rasanya bisa berpuasa di bulan suci Ramadhan. Aku tidak tahu
apakah Indra bisa berpuasa atau tidak? Semoga dia bisa dan dapat
melaksanakan tugas muslim meski dengan keterbatasannya.
Satu
momen lagi yang tidak akan terlupakan adalah saat Indra tertawa
ketika melihat seseorang. Aku yang melihat kejadian itu hanya bisa
tersenyum. Baru kali ini aku melihat Indra bisa tertawa seperti orang
normal lainnya.
Hari demi
hari berganti, tidak terasa Lebaran sebentar lagi tiba. Aku mulai
merencanakan baju yang ingin aku beli. Tapi aku teringat kembali akan
Indra. Jangankan untuk beli baju, memakai saja dia tidak bisa. Baju
yang dikenakan setiap hari adalah baju-baju yang sederhana yang
terkesan lusut dan sangat jauh dari kata rapi.
Tuhan!!!
Salahkah aku jika aku membeli baju yang bagus di hari raya sedangkan
saudara muslimku hanya bisa berbaring dan memakai baju yang sangat
sederhana? Salahkah aku jika aku memakai celana baru sedangkan
saudara muslim aku hanya memakai sarung kecil yang sederhana ?
Tanda
tanya besar terlintas di benakku kala itu. Lebaran tiba, suka cita
menyelimuti hari-hariku waktu itu. Aku saat itu tidak lebaran di
Jepara. Aku memilih Lebaran bersama orang tuaku di kampung halamanku
di daerah Purwodadi.
Setelah
meminta maaf dengan kedua orang tuaku, aku bergegas ke rumah nenekku
yang dekat dengan rumahku. Aku meminta maaf padanya karena sewaktu
kecil aku sering merepotkan nenekku. Lalu aku mendatangi rumah-rumah
saudaraku dan bersalam-salaman.
Setelah
selesai semua aku bersalam-salam dengan tetanggaku. Semuanya sangat
senang, raut muka bahagia selalu terpancar. Lalu aku kembali teringat
Indra di Jepara. Mungkin sekarang dia tidak bisa merasakan Lebaran.
Mungkin sekarang dia hanya bisa terbaring di kasur.
Suka cita
yang ada diwajahku seketika luntur ketika aku mengingat itu semua.
Bagaimana jika aku tidak bisa merayakan Lebaran yang penuh suka cita
seperti Indra? Bagaimana jika aku tidak bisa meminta maaf pada kedua
orang tuaku seperti Indra? Bagiamana jika aku tidak bisa datang ke
rumah-rumah saudara, nenek dan tetanggaku seperti yang terjadi pada
Indra.
Indra
mungkin hanya bisa berbaring di kasur. Tapi aku yakin dia mengerti
arti Lebaran yang sesungguhnya. Aku yakin dia bisa meminta maaf pada
kedua orang tuanya dengan bahasanya sendiri. Bahasa yang dia ciptakan
sendiri.
Aku
sejenak memikirkan kehidupan Indra lagi. Dia tidak pernah mengeluh
akan segala yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Bagaimana mau
mengeluh? Berfikir saja aku rasa sulit. Tapi aku yakin dia memiliki
fikiran yang hampir sama dengan kita semua. Akan tetapi kendalanya
adalah kesulitan dalam mengungkapkan semua itu.
Lebaran
telah berlalu, aku kembali ke Jepara untuk melanjutkan sekolahku.
Ketika aku sudah sampai di Jepara, tidak sengaja aku melihat Indra
sedang duduk di depan toko ibunya. Aku melihat tidak ada perubahan
sama sekali dengan Indra. Tetap sama dengan Indra sebelum lebaran.
Indra yang hanya bisa duduk dan diam.
Ketika
hari pertama masuk kembali di sekolah tercintaku. Aku masih teringat
Indra. Dia tidak bisa mengenyam pendidikan seperti orang normal
lainnya. Aku lebih bersemangat dalam belajar karena beranggapan, jika
kau menjadi Indra pasti tidak bisa merasakan pendidikan. Oleh karena
itu aku harus bisa meraih prestasi yang lebih baik dari yang
sebelumnya.
Mungkin
semua cerita diatas bisa jadi referensi kita semua dalam meniti
kehidupan di dunia ini. Kehidupan ini tidak mudah, banyak masalah dan
cobaan yang pasti akan kita terima akan tetapi semuanya pasti akan
ada hikmahnya. Dengan semua masalah dan cobaaan tersebut bisa menjadi
kita semakin berfikir lebih dewasa dari sebelumnya.
Indra,
seorang anak yang lahir dengan segala kekurangannya. Tapi dia tetap
bisa tersenyum ditengah cobaan dan kesengsaraan yang menghimpit dia.
Dia masih tetap bisa tertawa di sela-sela harinya. Sungguh luar
biasa.
Kita bisa
terinspirasi dari kedua orang tua Indra yang dengan ikhlas dan senang
dalam merawat Indra sejak kecil. Kata-kata mengeluh tidak pernah
keluar dari ucapan meraka yang menandakan ketulusan hatinya. Jika
kita jadi orang tua Indra? Mungkinkah kita bisa bersabar seperti
mereka ? Mungkinkah kita mau merawat Indra dengan cinta dan kasih
sayang ?
Merenung
dan merenung adalah solusi terbaik dalam menentukan langkah kita
kedepan. Jangan cuma tergiur dengan gemerlap kehidupan dunia. Jangan
cuma mengeluh akan segala yang telah diberikan kepada kita semua.
Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, justru mengeluh membuat
masalah itu semakin rumit dan besar.
Kita
contoh saja kehidupan Indra. Ingat kata pepatah!!! Janganlah kamu
selalu melihat keatas, sesekali coba lihat kebawah agar kamu mengerti
arti kehidupan yang sebenarnya.
Kata Puas
adalah relativ. Seseorang yang hidup miskin bisa saja puas dengan
kehidupan mereka akan tetapi seseorang yang hidup menjadi orang kaya,
dengan segala kekayaan yang dia miliki belum tentu dia puas dengan
apa yang dia miliki. Itu memang sifat lazim dari manusia.
Jika kita
belum puas dengan kehidupan kita saat ini. Lantas kapan kita puas ?
Apakah menunggu saat kita sudah terbaring diatas keranda dan diiringi
isak tangis keluarga? Maukah kita seperti itu ?
Sejenak
kita berfikir, kita jangan cuma menuntut apa yang telah diberikan
kepada kita semua. Tapi sebaliknya, apa yang telah kita berikan ? Apa
yang telah kita sedekahkan ? Hanya hati nurani kita saja yang bisa
menjawab semua itu.
Mungkin
cerita diatas hanya gurauan belaka menurut anda semua. Sebuah cerita
yang tidak memiliki makna. Cerita yang hanya membual dan hanya sebuah
cerita yang diada-ada. Mungkin cerita diatas sangat tidak perlu kita
baca karena hanya ditulis oleh seorang yang tidak mengerti arti dan
tata cara penulis yang benar akan tetapi jika kita mau merenungkan
dan memikirkan sejenak, bukan tidak mungkin cerita diatas bisa
menjadi setitik cahaya pencerah di hati kita masing-masing.
Dengan
setitik pencerah tersebut semoga bisa menjadikan hati kita lebih
sensitif terhadap kehidupan sosial disekitar kita. Masih banyak
diluar sana yang menderita dibandingkan kita. Masih banyak yang tidak
memiliki rumah seperti kita. Jangankan memiliki rumah, banyak juga
yang tidak bisa melihat indahnya dunia, mungkin Indra sedikit
beruntung karena dia bisa melihat indahnya dunia ini tapi bayangkan
mereka penyandang Tunanetra. Kegelapan yang hanya bisa dia lihat
setiap harinya. Jangankan matahari, setitik cahayapun dia tidak bisa
melihat.
Pantaskah
kita mengeluh ? Pantaskah kita menyianyiakan nikmat yang telah
diberikan kepada kita semua ? Salah besar jika kita menjawab “ YA”.
Marilah mulai dari sekarang kita mensyukuri nikmat yang telah
diberikan, menghargai nikmat yang telah diberikan dan memanfaatkan
semuanya untuk kebaikan sehingga bisa mengarungi kehidupan dunia
dengan aman dan tenteram.